Untuk menggerakkan delman, kamu harus mencambuk sang kuda.


Dulu waktu gue kecil, setiap hari minggu gue biasanya selalu ikut nenek pergi ke pasar. Menemani beliau berbelanja bumbu dapur, dan beberapa macam kebutuhan dapur lain nya. Seinget gue dulu, nenek selalu saja membawa tas jinjing nya di setiap beliau pergi ke pasar. "Padahal mah ujung - ujung nya kita pulang naik delman juga. Barang belanjaan kita taruh di delman, tidak kita jinjing." Tapi ya begitulah nenek gue. -_-

Karena kita kepasar naik angkot, kita berdua berangkat dari rumah pagi-pagi buta. Didalam angkot
 ternyata banyak juga ibu-ibu yang hendak ke pasar. "Kalau tadi kamu bangun nya gak pake lama, kita gak akan desak-desakan gini.." -Rupanya nenek gue sudah hafal betul waktu, situasi dan juga kondisi nya. Jam sekian kita berangkat, jam sekian kita akan tiba.-

Dulu pas ke pasar, yang sebenernya gue tunggu-tunggu adalah "Perjalanan Pulang" itu sendiri. Dibelikan mainan atau tidak, itu nomor 2. Karena jujur, gue gak suka kalau sampai ikut nenek masuk kedalam pasar. Pusing dan eneg ngeliat ribuan orang didalam sana. Belum lagi yang kadang nenek gue suka lupa saat lagi belanja, gue sering kali ditinggal kalau sampai mata gue sampai
 meleng sedikit aja. Mungkin saking asyik nya beliau berbelanja kali ya. Sampai lupa bedain mana tangan cucu, sama mana barang belanjaan.

Sebelum pulang, biasanya gue selalu mampir ke kedai kaki lima mie ayam baso langganan gue. Alih - alih sambil makan baso, gue suka ngeliat dan pilih - pilih delman mana yang bakal jadi kendaraan pulang. Selesai makan, gue langsung menunjukkan delman mana yang akan dinaiki. Kecil gue yang dulu suka ngoceh dan manja, selalu saja penasaran dengan hal - hal yang tidak seharusnya dipermasalahkan atau tanyakan. "Nek, kenapa sebelum delman jalan kuda harus dicambuk dulu? Tanpa dicambuk pun kayanya kuda tetap akan jalan, saat kusir memerintahkan untuk jalan. Tidak harus dengan mencambuknya."
*Dan hebatnya nenek gue selalu punya jawaban atas pertanyaan konyol gue tersebut, sama seperti saat gue minta dibelikan permen atau es bungkus didalam pasar. Dengan alasan karena itu dapat merusak gigi, dan banyak nya oknum pedagang jahil yang suka ngasih bahan berbahaya didalam minuman tersebut. Ya Tuhan.. Betapa polosnya gue dulu.


Dalam perjalanan pulang beliau menjelaskan, "Kamu akan mengerti, betapa pentingnya peran sang kusir dalam mencabuk kuda. Kadang ia harus mencambuk, agar kuda nya dapat bergerak. Bukan karena dia tidak sayang pada kuda nya, tapi sebaliknya. Pak Kusir ingin kuda dan delman nya sampai di tempat yang dia tuju. Tak jarang juga banyak pak kusir delman menutup bagian wajah kuda mereka. Fungsi nya adalah untuk menutup pandangan kanan-kiri kuda, agar si kuda tetap fokus pada jalanan yang ada didepan. "

Ngomong
 - ngomong, diatas bukan percakapan real ya. Gue cuma rindu sama nenek gue, yang telah wafat beberapa tahun lalu. Karena dulu memang biasanya rutinitas gue di hari minggu, kalau gak pergi ke pasar sama nenek. Palingan gue main ke rumah nya, walau cuma hanya sekedar main se-enggaknya gue seneng berada didekat beliau. 

Tapi sekarang keadaan nya sudah berbeda dari yang dulu, rasanya "hambar" sekali saat ini. Rumah nenek sudah diwariskan ke anak terakhir nya, paman gue. Dan sekarang rumah tersebut sudah direnov, jadi kemungkinan kecil bagi gue untuk mengingat-ingat kenangan yang pernah terjadi disana. Begitu juga dengan pasar, dan delman-delman nya. Pasar yang sempat kebakaran, mengharuskan semuanya di renovasi. Sampai saat cerita ini ditulis, pasar masih dalam tahap pembangunan, dan belum juga beroperasi seperti sedia kala. Bzz!! Pinggiran jalan yang biasa menjadi tempat parkir delman pun sudah dijadikan parkir untuk delman yang lebih modern saat ini (red; mobil;motor). Para pedagang kaki lima yang dulu membuat pasar ramai, kini sudah digusur. Tanah nya kini sudah dijadikan toko
 - toko bangunan megah. Membungkam rapat-rapat suara khas keramaian pasar zaman dulu. Oh my god!! Andai waktu bisa diulang, kayanya gue bakal milih hidup dizaman dulu aja deh.. its about memories. :')


Untuk bisa tetap bergerak atau berubah. nyatanya kamu akan dihadapkan dengan pengorbanan, atau rasa sakit lebih dulu. Hinaan dan makian dari orang sekitar jangan dijadikan alasan untuk kamu tetap bertahan. Tetaplah untuk terus bergerak. Percaya atau tidak, untuk membuat delman bergerak, sebelumnya sang kuda mendapatkan beberapa kali cambukan dari kusir nya. Selanjutnya tinggal bagaimana kuda itu mengatur langkah. Semakin cepat ia melangkah, semakin sedikit dia mendapat cambukan. "berakit - berakit ke hulu, berenang-renang ketepian." 

Komentar

Blog Sahabat

Postingan Populer