Kisah: Rembulan
Tersadar bahwa bidadari kecilnya sudah bersama Mentari. Kini ia tahu bahwa sudah tak ada lagi ruang baginya untuk berjalan bersama. Padahal sering kali ia mencoba mencari cara untuk bisa berdua. Malam itu, ia tunjukkan kegagahan nya. Cahaya malam, nampak begitu terang terpandang dari bumi kecilnya. Tapi, sekali lagi. Ia kembali terabaikan. Bidadari kecilnya berlalu begitu saja. Sedih nya bukan main. Bayangkan saja bilamana menjadi dirinya. Pilu sudah hati ini tak kala kita sudah berikan semua perhatian dan kasih kita kepada seorang, dan kita sudah menaruh perasaan yang begitu besar kepadanya. Namun, ia sama sekali tak peduli dengan kita. Tak pernah memandang seberapa besar perjuangan kita. Bahkan hanya sekedar untuk bisa mencuri sedikit saja waktu darinya, butuh waktu dan usaha yang ekstra.
“Begitu miris sekali hidup ku ini. Aku mempunyai banyak bintang setia disampingku, bintang yang selalu saja di impikan oleh manusia se-usia mu. Tak sedikit juga orang yang berdoa agar aku hadir dalam gelapnya malam menerangi jalan bagi mereka, sang penjelajah malam.”
“Renungkan dan lihatlah aku, begitu banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan baja - baja tua, merakit dan mengendarainya hanya untuk bisa bertemu denganku. Hanya untuk bisa hinggap kedalam jiwa ku. Tapi kenapa kau berbeda duhai bidadari kecil ku? Kau amatlah sombong, kau sibuk dengan segala kesibukanmu mengabaikan ku. Sungguh sakit hati ini. Kau bisa bercanda tawa dengan manusia sepertimu, Tidak denganku. Aku hanyalah bulan bodoh yang begitu sangat mencintai mu, entah sudah berapa banyak waktu yang ku buang sia - sia untuk bisa mendapatkanmu. Tapi kurasa ini belum seberapa dengan usaha mentari yang begitu amat menginginkanmu. Aku amat cemas akan kehadiran ‘mentari’ di pagi hari saat kau terbangun. Ia selalu saja siap menerangi hari mu lebih lama dibandingkan diriku.”
Yaah, memang barangkali sudah nasib nya. Sendiri, Terabaikan dan ditinggalkan.
Ada yang bernasib sama dengan kisah rembulan diatas?☺



Komentar
Posting Komentar